Tahun kedua bekerja di Perpustakaan IPB, tepatnya 1984, Aku mendapatkan kesempatan untuk belajar ke Amerika, tepatnya magang. Aku magang selama 4 bulan di Perpustakaan Kurt F. Wend Library di Faculty of Engeneering, University of Wisconsin, Madison. Ada pelajaran berharga dibalik persiapan tugas belajar atau magang ini. Sesungguhnya aku tidak pernah tahu bahwa ada program tugas belajar jangka pendek atau short term training ke Amerika. Tetapi sejak aku masuk kerja aku memang merasa harus mengasah bahasa Inggrisku. Honorku sebagai pegawai honorer waktu itu hanya Rp.30.000,- sebulan, namun aku sudah ikut kursus intensif bahasa Inggris dengan membayar Rp. 25.000,- sebulan. Aku lakukan itu karena aku menganggap penguasaan bahasa Inggris itu sangat penting untuk berkarir di masa depan. Untuk tambahan penghasilan buat makan aku menerima honor dari sebagai sekretaris jurusan dan honor mengajar (asisten dosen) di jurusan PIP. Kursus intensif itu aku hanya jalani tiga bulan saja. Selebihnya aku belajar sendiri. Setiap malam menjelang tidur aku selalu sempatkan membaca artikel berbahasa Inggris. Itu terus aku lakukan walaupun aku kurang begitu mengerti artinya. Kebiasaanku itu akhirnya berbuah juga. Aku dipanggil oleh sekretariat kerjasama IPB-Wisconsin Project, Ibu Rahardjo atau biasa dipanggil dengan Yu Non. Yu Non memanggil aku ke rumahnya pada malam minggu. Panggilannya disampaikan melalui mertua aku. Kebetulan Yu Non dengan mertua aku memang cukup akrab. Aku penuhi panggilannya ke rumahnya. Beliau memberitahu aku bahwa hari Senin aku harus ujian Bahasa Inggris di Jakarta. Aku tidak ingat tepatnya di gedung apa. Itu artinya aku hanya punya waktu satu hari untuk mempersiapkan ujian. Tidak mungkin persiapan belajar. Yang aku persiapkan adalah mencari fasilitas kendaraan agar bisa sampai ke tempat tes sepagi mungkin. Sebab tes dilakukan tepat pada pukul 8 pagi. Itulah untungnya aku nekad kursus bahasa Inggris dan mempunyai kebiasaan membaca bahasa Inggris. Hasilnya alhamdulillah aku lulus dan siap diberangkatkan ke Amerika untuk magang selama kurang lebih 4 bulan.
Blog saya ini adalah untuk menuliskan otobiografi serta mencatat perjalanan hidup saya serta perjalanan karir saya khususnya dalam bidang perpustakaan.
Senin, 02 Juli 2012
Ke Amerika
Tahun kedua bekerja di Perpustakaan IPB, tepatnya 1984, Aku mendapatkan kesempatan untuk belajar ke Amerika, tepatnya magang. Aku magang selama 4 bulan di Perpustakaan Kurt F. Wend Library di Faculty of Engeneering, University of Wisconsin, Madison. Ada pelajaran berharga dibalik persiapan tugas belajar atau magang ini. Sesungguhnya aku tidak pernah tahu bahwa ada program tugas belajar jangka pendek atau short term training ke Amerika. Tetapi sejak aku masuk kerja aku memang merasa harus mengasah bahasa Inggrisku. Honorku sebagai pegawai honorer waktu itu hanya Rp.30.000,- sebulan, namun aku sudah ikut kursus intensif bahasa Inggris dengan membayar Rp. 25.000,- sebulan. Aku lakukan itu karena aku menganggap penguasaan bahasa Inggris itu sangat penting untuk berkarir di masa depan. Untuk tambahan penghasilan buat makan aku menerima honor dari sebagai sekretaris jurusan dan honor mengajar (asisten dosen) di jurusan PIP. Kursus intensif itu aku hanya jalani tiga bulan saja. Selebihnya aku belajar sendiri. Setiap malam menjelang tidur aku selalu sempatkan membaca artikel berbahasa Inggris. Itu terus aku lakukan walaupun aku kurang begitu mengerti artinya. Kebiasaanku itu akhirnya berbuah juga. Aku dipanggil oleh sekretariat kerjasama IPB-Wisconsin Project, Ibu Rahardjo atau biasa dipanggil dengan Yu Non. Yu Non memanggil aku ke rumahnya pada malam minggu. Panggilannya disampaikan melalui mertua aku. Kebetulan Yu Non dengan mertua aku memang cukup akrab. Aku penuhi panggilannya ke rumahnya. Beliau memberitahu aku bahwa hari Senin aku harus ujian Bahasa Inggris di Jakarta. Aku tidak ingat tepatnya di gedung apa. Itu artinya aku hanya punya waktu satu hari untuk mempersiapkan ujian. Tidak mungkin persiapan belajar. Yang aku persiapkan adalah mencari fasilitas kendaraan agar bisa sampai ke tempat tes sepagi mungkin. Sebab tes dilakukan tepat pada pukul 8 pagi. Itulah untungnya aku nekad kursus bahasa Inggris dan mempunyai kebiasaan membaca bahasa Inggris. Hasilnya alhamdulillah aku lulus dan siap diberangkatkan ke Amerika untuk magang selama kurang lebih 4 bulan.
Menjadi PLH Kepala Perpustakaan
Pada tahun 1983 Kepala Perpustakaan IPB mendapatkan tugas ke Amerika Serikat selama kira-kira 4 bulan. Sebelum beliau berangkat, aku dipanggil. Saat itu, di ruang beliau, sudah ada Pak Slamet Ma’oen salah seorang dosen IPB dan sahabat Pak Fahidin, kepala Perpustakaanku. Satu lagi Pak Emir Siregar, juga dosen IPB dan ketua IRC. Beliau juga sahabat Pak Fahidin. Mereka sedang merundingkan siapa yang akan ditunjuk untuk menjadi pelaksana harian kepala Perpustakaan IPB dan pelaksana harian ketua jurusan PIP selama beliau ke luar negeri. Pilihan mereka jatuh padaku. Aku ditunjuk untuk menjadi PLH Kepala Perpustakaan selama kepala perpustakaan IPB menjalankan tugas ke luar negeri. Seingat aku yang menjadi PLH Ketua Jurusan PIP adalah Pak Slamet Ma’oen. Tetapi karena aku juga menjadi sekretaris di Jurusan PIP, maka pekerjaan-pekerjaan di Jurusan PIP tetap menjadi tanggung jawabku. Disinilah aku mulai belajar manajemen. Kata orang aku belajar dengan cara “learning by doing”.
Selama menjalankan manajemen perpustakaan sebagai PLH, aku banyak mendapatkan tantangan. Aku yang baru saja masuk menjadi pegawai negeri dan baru diangkat sebagai CPNS sudah diminta memimpin perpustakaan. Perpustakaan IPB lagi. Staf yang aku pimpin banyak yang sudah sangat senior dan sudah puluhan tahun bekerja di Perpustakaan IPB. Beberapa staf tersebut pernah menjadi Kepala Perpustakaan Fakultas sebelum ada perubahan struktur dan digabung menjadi Perpustakaan IPB. Aku melakukan pendekatan ke staf-staf senior perpustakaan dan selalu minta nasehat. Setidaknya aku selalu minta pendapat jika mau memutuskan sesuatu sebagai “second opinion”. Saat aku memutuskan siapa yang akan diangkat menjadi PNS pada saat itu, aku salah memutuskan. Aku tidak melihat senioritas pegawai honorer yang mau diangkat. Jadilah pegawai honorer yang lebih muda diangkat lebih dulu daripada pegawai yang lebih lama menjadi pegawai honorer. Sebetulnya keputusanku itu dikatakan salah juga tidak sepenuhnya benar. Sebab pada waktu itu aku lebih melihat kepada performance dan kompetensi pegawai yang akan diangkat. Aku memilih yang terbaik dari calon yang ada, bukan memilih berdasarkan senioritas. Namun akibatnya fatal bagi saya. Bertahun-taun aku tidak bisa mendekati staf yang merasa di”dzolimi” itu. Namun ketika yang bersangkutan pada akhirnya dapat diangkat mennjadi PNS, aku menjadi dekat dengan beliau, bahkan orang itu menjadi andalanku ketika aku memimpin bidang pelayanan.
Langganan:
Postingan (Atom)