Blog saya ini adalah untuk menuliskan otobiografi serta mencatat perjalanan hidup saya serta perjalanan karir saya khususnya dalam bidang perpustakaan.
Senin, 02 Juli 2012
Hari-hari di Perpustakaan
Seperti telah dikisahkan hari pertama di perpustakaan aku sudah diminta untuk mengikuti pendidikan singkat di Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Sastra di UI. Selama enam bulan aku menimba ilmu perpustakaan di almamater keduaku tersebut. Pulang pendidikan aku tidak segera ditempatkan di bagian-bagian yang ada di perpustakaan IPB. Aku hanya membantu kepala Perpustakaan IPB mengerjakan tugas-tugas administrasi. Selain itu aku diminta untuk membuat rencana pengembangan perpustakaan IPB.
Aku kemudian menyusun rencana restrukturisasi organisasi Perpustakaan IPB. Ini aku lakukan karena aku melihat organisasi yang ada tidak efisien dan tumpang tindih. Usulanku ini berbuah pahit bagiku. Aku dimusuhi oleh pegawai-pegawai senior yang ada di Perpustakaan IPB. Namun aku pantang menyerah. Kelak terbukti bahwa restrukturisasi tersebut memang membawa perbaikan kepada kinerja Perpustakaan IPB. Sukses melakukan restrukturisasi organisasi Perpustakaan IPB, aku kemudian diminta oleh Kepala Perpustakaan IPB untuk memimpin Bidang Pelayanan di Perpustakaan IPB. Jabatan ini aku dijalani selama 6 tahun.
Kuliah di UI
Baru sehari Aku bekerja, aku dikirim oleh IPB untuk mengikuti program sertifikat untuk perpustakaan dan dokumentasi yang merupakan program pendidikan singkat kerjasama Dirjen Pendidikan Tinggi dengan Universitas Indonesia. Perkenalanku dengan dunia pustakawan dan kepustakawanan sesungguhnya dimulai disini. Mulailah aku berkenalan dengan katalogisasi, klasifikasi, sirkulasi, referensi dan istilah-istilah lain yang sebelumnya sama sekali asing ditelingaku. Aku masuk ke UI terlambat satu hari. Itu karena pengurusan surat ijin dari PR I yang mendadak sehingga tidak bisa segera selesai. Ada kejadian lucu ketika pertama kali aku masuk kelas di JIP-FSUI. Aku ditanya oleh ketua kelas dan disangka mahasiswa S1 nyasar salah masuk kelas. Itu karena postur tubuhku yang kecil dan masih pantas menjadi murid SMA atau paling tinggi kalau kuliah ya tingkat 1. Tapi aku meyakinkan ketua kelasku itu bahwa aku adalah bagian dari kelas mereka. Mula-mula aku memang tidak diperhitungkan di kelas. Karena aku paling muda, maka aku menjadi orang yang paling sering disuruh-suruh. Biasanya aku yang disuruh memfotokopi, mengambilkan overhead proyektor, mengecek dosen dan macam-macam pekerjaan.
Namun dengan berjalannya waktu aku terus mencuri simpati peserta lain dan dosen-dosen JIP-FSUI. Sesuai dengan semangat belajar dan semangat bersaingku maka Aku tidak mau kalah dengan peserta lain yang semuanya lebih tua usianya. Aku meraih nilai sangat bagus dan mendapatkan posisi peserta kedua terbaik. Hanya selisih nilai satu angka saja pada pelajaran yang sangat memerlukan kemampuan berbahasa Inggris dari seorang peserta yang memang dari Jurusan Sastra Inggris. Beberapa dosen yang dianggap “killer” oleh peserta pendidikan atau oleh mahasiswa reguler mampu aku “taklukkan”. Nilai-nilaiku untuk mata kuliah dosen “killer” itu malah bagus. Bahkan yang tidak pernah aku lupakan adalah seorang dosen senior, Ibu Kalangie, menawariku untuk menjadi dosen di JIP-FSUI. Sayang sekali tawaran itu tidak bisa aku terima karena aku sudah terlanjur menandatangani kontrak dengan Pembantu Rektor I IPB.
Langganan:
Postingan (Atom)